Posts Tagged ‘KURATOR SENI’

kURATOR SENI SEBAGAI AGEN CITRA

Monday, April 20th, 2009

Kurator Seni Rupa Sebagai Agen Citra

 

Dalam jagad seni (art world) ada tiga jalur pendekatan yang mestinya berjalan sinergis, yaitu jalur penciptaan, yang digeluti oleh seniman , jalur pengkajian, digeluti oleh ahli seni termasuk di dalamnya kritikus dan terakhir jalur manajemen seni,  yang konotasinya adalah jalur yang digeluti oleh fihak yang menjadi media transformasi barang seni menjadi komoditas, baik ekonomi, politik maupun budaya. Lalu dimana posisi kurator di dalam dunia seni?

Kurator sebagai  transmiter.

Sering kali kurator menjadi bulan-bulanan kepentingan tiga jalur tersebut di atas. Bahkan tidak jarang muncul stigma sinis dari para pencipta seni/ seniman, yang menganggap kurator adalah seniman gagal. Mereka yang menjadi kurator adalah mantan seniman yang telah tidak lagi berkarya seni Sedangkan di sisi lain ada kenyataan hyper peran yg diberikan kepada kurator baik oleh fihak museum, gallery, kolektor maupun senimannya sendiri (ada rasa bangga bila pamerannya dikuratori oleh kurator yang telah populer) untuk memberikan vonis nilai seni sebuah karya, sehingga karya tersebut layak atau tidak untuk disuguhkan kepada masyarakat dan dibeli, di sini sosok kurator bak Betara Nyamadipati (dewa pencabut nyawa dalam dunia pewayangan) bagi seniman

Perang dingin antara seniman dan kurator ini semestinya tidak perlu berlarut-larut atau dengan kata lain kalaupun ada perang  maka perang itu harus dalam rangka membangun infra dan supra struktur seni di Indonesia yang sehat. sehingga ke depan masing masing fihak menyadari perannya sendiri dengan penuh tanggung jawab dan tidak ada yang merasa  dizalimi satu oleh  lainnya, terutama masyarakat umum pencinta seni. Jangan ada sikap meremehkan (sengaja atau tidak) dengan pernyataan apresiasi masyarakat belum sampai ketika ada karya yang tak terpahamkan oleh apresian. Atau sebaliknya masyarakat memberi lebel pada seniman sebagai disorder person.  Seniman dan kurator sama-sama punya tanggung jawab mencerdaskan bangsa (baca : manusia)

Sebagaimana arti leksikografisnya, awalnya kurator adalah orang yang berprofesi sebagai perawat barang barang koleksi museum dan pekerjaan tersebut harus dipertanggung jawabkan kepada direktur museum, namun dalam perkembangan selanjutnya kurator dimaknai sebagai orang  yang pekerjaannya menyelenggarakan dan bertanggung jawab terhadap pameran seni yang sedang digelar dan tanggung jawab ini dapat dilakukan secara independent tidak tergantung pada struktur tertentu maupun terikat pada satu institusi tertentu.

Tanggung jawab di sini harus dimaknai secara luas dan mendetail; mulai dari konsep kuratorial, tujuan pameran, jenis pameran, pemilihan seniman dan karyanya, pemilihan tempat dan display hingga ke dampak yang terjadi dan akan terjadi secara luas dan mendalam baik untuk kepentingan seniman sendiri maupun kehidupan bersama atas kegiatan pameran yang diselenggarakan. Sehingga tugas kurator bukan sekedar memilih karya apalagi sekedar penulis dalam katalog. Saat ini kurator adalah image  agent/ agen pembangun citra; dan berkaitan dengan citra ini ada hubungan yang multualistis antara kurator, seniman, galery/museum dan masyarakat sendiri. dan sudah barang tentu sebagai agen dia tidak bisa (baca: sulit) melepaskan diri dari kepentingan yang ada dan menggerakkannya. Seringkali penggerak itu adalah mereka yang memiliki volume dan komposisi kapital dan kekuasaan.

Dalam budaya kontemporer keberadaan transmiter atau agen pembangun citra sebagai bagian dari jaringan yang dirajut oleh pemilik modal untuk mengembangkan ide sepertinya sudah tidak bisa dihindari . “ In the contemporary world  where culture conglomerates are able to spread their ideas of what culture should be, the crucial questions are: Whose stories are told ? How are their manufacture, disseminted and received? Who control production, distribution and exhibition ?(Shohat and Stam dalam Joost Smiers, 2003; 135-136). Hal ini dapat menjadi pisau bermata dua, positif dan atau negatif, tergantung pada cara memaknainya. Bila pendapat di atas diterima sebagai sebuah kepasrahan maka akan terjadi keseragaman selera kultural dan matinya kemerdekaan individu untuk menafsirkan budayanya sendiri dan terbelenggunya  kreativitas, di mana model yang dipilih  bisa berujud strategi “penggorengan” seniman oleh pemilik modal yang dibantu, dikemas oleh kurator agar tampak lebih berbudaya. Ini berbahaya !

Oleh karena itu untuk menjadi seorang kurator bukanlah pekerjaan yang mudah, dia haruslah memegang seperangkat alat, antara lain adalah: 1) dapat membuat penilaian yang baik/obyektif. 2) akurat, metodik dan mampu melihat detail detail karya dengan tajam 3) mampu melakukan penelitian dan mengejar informasi demi akurasi data. 4) memiliki motivasi diri yang kuat. 5) bersikap terbuka dan kreatif 6) memilik cita rasa baik dalam penyajian karya. 7) mampu bekerja dalam tim. 7) dewasa dalam bekerjasama dengan masyarakat luas.

Selain seperangkat persayaratan standart tersebut di atas seorang kurator harus juga memegang kode etik  yaitu 1) Pendekatan yang adil terhadap sesama seniman, 2)Korespondensi dan persetujuan finansial sejak awal. 3) Menjaga kepercayaan yang diberikan seniman dan loyal 4) Menghindari konflik kepentingan. 4) Waspada terhadap isu kekuasaan.5) Waspada terhadap jaringan Gosip (Christine Clark, 1999)

 

Kurator versus Kritikus

.       Dari persyaratan alat yang harus dimiliki dan kode etik yang yang harus dipegang oleh   seorang kurator  tampaklah pada  batas tertentu  memang seorang kurator mirip dengan seorang kritikus; Perbedaan kritikus dan kurator adalah terletak pada waktu kerja, proses kerja dan sebagian obyek kerja. Seorang kritikus bisa melakukan penilaian  kerja kurator tetapi tidak sebaliknya.

Kurator adalah institusi yang memikirkan rencana, melaksanakan dan memberikan suguhan menu  dalam perhelatan pameran, sehingga , menu apa, mengapa menu itu yang disuguhkan bagaimana  kemasannya, bagaimana cara menyuguhkan, dimana suguhan itu diberikan dapat betul-betul menjadi nutrisi yang penuh gizi bagi semua fihak yang berkepentingan. Sedangkan kritikus adalah institusi yang fungsinya mengobservasi dan memberikan evaluasi terhadap pilihan menu yang disuguhkan kurator, cara kurator mengemas dan menyuguhkan menu, pemilihan tempat dan suasana perhelatan yang didesain kurator; Jadi out put dari kerja seorang kritikus adalah kebenaran tentang nutrisi yang dikandung oleh sebuah pameran, dan out comenya masyarakat yang makin cerdas.

 Oleh karena itu, semestinya sungguh aneh bila seorang kurator sekaligus merangkap sebagai kritikus dalam sebuah perhelatan seni, Namun yang aneh ini bisa sungguh-sungguh terjadi di negeri ini. Dan dampak ketidakadaan/ tidak jelas kedua lembaga ini maka tidak ada check and balances ketika kurator dan atau kritikus melakukan kesalahan dalam melaksanakan fungsi profesinya dan akhirnya muara dari ini semua adalah pertaruhan kualitas karya yang beredar menjadi diragukan dan banyak fihak dapat mungkin dirugikan. Termasuk martabat bangsa.

Maka, barangkali sudah saatnya infra struktur dan supra struktur kesenian di Indonesia dibenahi, sehingga kedepan, siapa tahu suatu saat penyelenggara negara ini akan mempertimbangkan hasil karya seni rupa sebagai aset bangsa yang nilai devisanya tidak kalah dengan  komoditi yang lain Dan bila ini terjadi maka saya berharap kaum seniman tidak menjadi allergi dan cemas terhadap nilai-nilai lain di luar estetika yang terkandung dalam karyanya. Justru yang perlu dicemaskan adalah ketika kita tidak siap menerima keberhasilan secara bertanggung jawab dengan menumpulkan diri dari kreativitas. Perjalanan sejarah seni rupa telah pernah memaparkan bahwa ketika Seni Lukis Indonesia mengalami boom secara ekonomi namun  justru stagnan dalam kreativitas (Soedarso SP 1990)

Di jaman yang serba mungkin ini siapa yang mampu menahan gelombang globalisasi, dan konsumerisme dimana cakrawala pandang untuk melihat dan memanfaatkan sesuatu akan sangat luas, kadang diluar yang dapat kita asumsikan sebelumnya.

 

(Tjahyo Prabowo, Perupa dan Staff pengajar Program studi Seni rupa FKIP UNS Surakarta tinggal di Jogyakarta)